5 Inspirasi Membangun Bisnis Dari Nabi Muhammad SAW

Reading Time: 3 minutes

Jadi pengusaha yang sukses menjadi impian banyak orang, termasuk umat Islam sedunia. Apalagi, muslim memiliki panutan yang ideal dalam membangun kerajaan bisnis dalam diri Nabi Muhammad SAW.

Semasa hidupnya, beliau merupakan seorang pedagang yang sukses. Sebagai buktinya, beliau dipercaya untuk mengelola usaha dagang Khadijah dalam ekspedisi ke Habasyah di Yaman.

Melihat kesuksesannya tersebut, tidak salah kalau Nabi Muhammad SAW patut menjadi inspirasi bisnis untuk setiap pengusaha muslim. Ada 5 prinsip penting yang harus diterapkan dalam setiap aktivitas bisnis, yaitu:

1. Pelayanan ramah kepada konsumen

Dalam buku berjudul “Muhammad A Trader” yang ditulis oleh Prof. Afzalul Rahman mengatakan bahwa Rasulullah merupakan seorang saudagar dengan visi yang modern.

Seperti halnya perusahaan besar di zaman sekarang, Nabi Muhammad mementingkan tingkat kepuasan pelanggan. Hal ini dibuktikan dengan pemberian pelayanan kepada para konsumen yang sangat ramah.

Tidak hanya itu, Nabi Muhammad juga tidak pernah memperoleh komplain dari para konsumen. Hal ini masuk akal, karena setiap barang yang dikirimkan merupakan produk berkualitas dan sesuai dengan perjanjian.

2. Membangun rasa percaya dengan ketulusan

Rasulullah juga memiliki reputasi sebagai seorang saudagar yang tepercaya di mata para konsumen serta rekan bisnis. Reputasinya sebagai pedagang yang jujur tersebut telah dikenal luas sejak usia muda.

Ketika menjalankan bisnisnya, Rasulullah memegang teguh prinsip kejujuran serta transaksi yang adil. Tidak hanya itu, Nabi Muhammad juga merupakan sosok yang memperkenalkan asas “pacta sur servanda”.

Asas ini merupakan landasan dasar dalam hukum perdata serta perjanjian yang dilakukan pada era modern. Melalui asas ini, transaksi harus dilakukan atas persetujuan masing-masing pihak.

Dalam hubungan dengan rekan bisnis, Rasulullah tidak pernah melanggar perjanjian yang telah disepakati. Salah satu contohnya adalah ketika Nabi Muhammad memiliki utang sebesar 40 dirham kepada Abdullah Ibnu Abi Rabi’.

Tidak hanya melakukan pembayaran sebelum tenggat, tetapi juga disertai dengan nilai pengembalian melebihi pinjaman sebagai bentuk penghargaan.

3. Jual beli barang dan jasa yang halal

Sebagai seorang pedagang, Nabi Muhammad merupakan saudagar yang secara cermat memilih barang dagangannya. Beliau hanya menjual barang yang halal dan diperbolehkan syariat agama.

Di dalam praktiknya, beliau tidak pernah menjual barang haram ataupun benda-benda yang mengandung najis. Pada waktu yang bersamaan, Rasulullah juga menghindari perdagangan yang dilakukan secara monopoli.

Bahkan, dalam hadits disebutkan kalau aktivitas monopoli merupakan hal yang diharamkan oleh Rasulullah. Belum cukup sampai di situ, Rasulullah juga mengatakan  siapapun yang melakukan monopoli bakal bangkrut dan memperoleh penyakit.

4. Memahami muamalah dalam berdagang

Aktivitas bisnis yang dilakukan oleh Rasulullah merupakan salah satu praktik muamalah. Dalam menjalankan usahanya, Rasulullah secara terbuka melakukan perdagangan dengan siapa saja, termasuk dengan umat dari agama lain.

Membahas tentang praktik muamalah tersebut, Nabi Muhammad juga menjaga hubungan baik dengan siapa saja. Oleh karena itu, beliau melarang adanya praktik riba, gharar, serta maysir dalam setiap aktivitas perdagangan.

5. Berbisnis tidak sekadar mencari keuntungan

Prinsip penting yang diterapkan oleh Rasulullah dalam aktivitas dagangnya adalah niatan awal yang tidak sekadar mencari keuntungan. Aktivitas bisnis harus disertai dengan itikad baik untuk mencari berkah dari Allah SWT.

Terkait upaya mencari keuntungan, Nabi Muhammad punya kemampuan dalam melakukan manajemen yang baik. Alhasil, bisnis bisa dikelola secara efektif dan efisien.

Di samping itu, Rasulullah selalu menyisihkan sebagian penghasilan untuk diberikan kepada fakir miskin dan anak yatim.

Itulah 5 inspirasi membangun bisnis ala Rasulullah yang harus diikuti oleh setiap pengusaha muslim. Semoga bermanfaat.

Sumber: